Nikmatnya Berurusan dengan Polisi Saat Ini

Beberapa waktu lalu tepatnya sebelum wisuda saya ditilang di Jalan Ahmad Yani Jakarta Timur. Suasana pagi yang cukup sibuk dengan ratusan kendaraan yang lalu lalang menghiasi keramaian di jalan bypass itu. Berangkat dari rumah aku sama sekali tak menyangka bahwa hari itu akau akan mendapat sebuah pengalaman yang lumayan berkesan. Begini ceritanya. Keluargaku datang dari Ngawi untuk mengikuti acara wisudaku. Mereka menginap di rumah saudara di Sunter. Karena HP sudah berdering dan ibu menelepon bahwa mereka sudah sampai, langsung aku berniat menuju Sunter. Dengan motor teman sekos, aku pilih rute lewat bypass biar gak kena macet pikirku.
Maklum saja, karena jarang aku bersepeda motor lewat rute ini, jadi agak bingung juga dengan keramaian itu. Ah, yang penting asal ikuti sepeda motor-sepeda motor yang lain pasti beres pikirku. Masalah rambu-rambu yang cukup banyak terpampang tak kurisaukan. Aku cukup hafal dengan rambu bulat dengan gambar sepeda motor yang dicoret diagonal. Itu tandanya aku dan pengendara motor lain tidak boleh masuk. Tidak –layak– berhak masuk di jalur tersebut. Rambu itu umumnya aku jumpai di jalur masuk tol. Selain itu tampaknya beres-beres saja. So far so good.
Dari arah kebon nanas aku selalu ambil jalur pinggir, tapi kali ini di jalan ahmad yani, suasana jalan yang padat membuatku bingung. Sempat bingung dan mencoba sambil celingukan mencari tanda rambu bulat tadi, tapi tak kutemukan. Terus saja kuikuti sepeda motor lainnya. Separuhnya ambil jalur lambat, separuhnya lagi ambil jalur cepat yang di tengah. Wah di sini berarti boleh ya, sepeda motor ambil jalur cepat pikirku. Oke ,aku ambil juga cepat. Toh gak kulihat ada rambu bulat tadi.
Baru beberapa ratus meter, kulihat ada patroli polantas menyetop motor-motor di depanku. Ada pemeriksaan, pikirku. Tenang saja, toh aku gak merasa melanggar apapun, perlengkapan juga sudah beres semua. SIM, STNK, helm, KTP, dll sudah oke. ‘Selamat pagi,pak!’. ‘Iya, selamat pagi.’ Sambil kuserahkan surat-suratku, walau belum diminta.
‘Bapak sudah masuk jalur cepat yang terlarang bagi sepeda motor.’ ‘Hah, iya ya? Kok bisa? Tadi saya lihat gak ada rambunya.’ ‘Ada pak, semua jalur cepat tidak boleh dimasuki sepeda motor.’ Waduh gak punya alasan lagi aku, apalagi kulihat puluhan pengendara yang lain juga ditilang sambil cengar-cengir. Oalah nasib.
‘Ini surat tilangnya, saya tahan SIM bapak. Tolong diambil di persidangan minggu depan di PN Jakarta Timur.’ Yah mau bagaimana lagi, namanya juga salah. ‘Iya,pak.’
Bapakku yang mendengar ceritaku cuma berpesan, ‘Ya sudah ambil saja, gak susah. Cuma bayar denda sedikit. Gak ada biaya lainnya.’
Seminggu kemudian, aku masih berburuk sangka, mungkinkah nanti persidangannya dipersulit yang intinya harus membayar sogokan yang banyak di luar denda administrasi. Ah, jalani saja. Sampai di depan PN Jakarta Timur, ratusan pengendara lain yang juga mau mengambil surat-surat mereka yang disita sudah berjubel. Para calo menawariku untuk mengambilkan SIMku dengan berbagai tawaran harga. 75ribu, 70ribu, 65ribu, 60ribu. Makin dekat ke kantornya semakin murah tawaran mereka. Dasar calo, pikirku. Mereka hampir sepakat bahwa harga-harga tadi dia cuma ambil untung 5ribu saja. ‘Cuman 15menit kok pak, kalau bapak ambil sendiri pasti lama antri dan susah.’ Ah iya ya? Aku juga gak tau, belum pernah kena tilang seperti ini sih.
Kuputuskan mencoba mengambil jalan yang lurus, dengan sidang. Itu karena aku –lagi gak punya duit– ingin tertib hukum, hindari percaloan, sogok-menyogok, dsb. Aku masuk ruang sidang, menunggu namaku dipanggil. Waktu 20 menit berlalu, akhirnya namaku dipanggil. Hakim menegaskan kesalahanku melanggar rambu dan menuliskan denda di surat tilang. Cuma 25ribu biaya denda dan 500rupiah biaya administrasi. Wow. SIMku sudah kembali ke dompet tercinta. Mudah sekali pikirku. Hebat euy polisi dan pengadilan lalu lintas sekarang. Wah kalau begini, mulai sekarang akuu tidak akan takut-takut lagi untuk –melanggar rambu– mematuhi peraturan dan berurusan dengan pak polisi lewat jalur yang benar.
Semoga bermanfaat buat yang masih suka meremehkan polisi dan mengandalkan calo. Masih banyak aparat yang tertib dan jujur. Bravo polisi dan pengadilan lalu lintas!

2 responses to this post.

  1. selamat Rie!
    aq juga dulu pernah ditilang pas bawa mobil ke Prambanan..
    Bedanya, aq langsung ngurus di kantor polres, en langsung dihukum pake pasal 50!

    iya kai? aku baru tau kalau pasal 50 itu artinya denda di tempat 50ribu ya….

    Balas

  2. Posted by ratih_imoet on Desember 12, 2008 at 9:44 am

    kata sapa nikmat berurusan dengan polisi….aku pernah ketilang kena 80 ribu. mahal bgt, padal tu pake sidang. heheeheh, soalnya aku melanggar 2 pasal yi melanggar rambu2 dan g punya SIM. wekekek, tp tetep aku sebel ma polisi!!!bikin rambu2 di bawah pohon rindang, ya g ada yg liat lah

    hehe.. betul mbak, tapi tetap kan ada oknum yang gak beres. Tapi perlu juga diacungi jempol untuk lainnya yang masih lurus.

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: